Menjadi ayah dari seorang anak yang baru menginjak usia 13 bulan adalah sebuah petualangan yang luar biasa. Di fase ini, rasa ingin tahu anak sedang meledak-ledak. Setiap sudut rumah adalah taman bermain, dan setiap benda adalah objek eksperimen. Namun, petualangan mengawal tumbuh kembang ini sering kali menghadirkan dinamika yang kompleks, terutama ketika kita tinggal satu atap dengan generasi pendahulu—orang tua atau mertua kita.
Jangan salah paham, cinta kakek dan nenek kepada cucunya adalah cinta yang tidak bersyarat. Saya melihat sendiri bagaimana kehadiran mereka memberikan limpahan kasih sayang di rumah. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup ketika dihadapkan pada jurang perbedaan prinsip pengasuhan. Ada pola-pola lama yang terus berbenturan dengan nilai-nilai mindful parenting yang sedang susah payah kita bangun.
Dari pengalaman sehari-hari, saya menyadari satu hal penting: Di era sekarang, ilmu tentang grandparenting (pengasuhan untuk kakek-nenek) sama mendesaknya dengan ilmu parenting itu sendiri.Inilah beberapa alasan mengapa saya berpendapat demikian, berdasarkan apa yang saya amati langsung di lapangan.
1. Tantangan Digital yang Sama Sekali Berbeda
Generasi orang tua kita membesarkan anak-anaknya di era televisi, sebuah medium yang relatif pasif dan berjalan lambat. Kini, anak-anak kita lahir di era tontonan layar bergerak cepat.Bagi orang tua lansia yang kehabisan energi menghadapi batita yang sedang aktif-aktifnya, gadget sering kali dilihat sebagai “obat bius” instan. Menyalakan video TikTok atau YouTube adalah jalan pintas agar anak duduk diam dan tidak rewel. Sayangnya, pemahaman mereka sering kali berhenti di situ. Mereka mungkin tidak terpapar informasi medis terkini bahwa membiarkan otak bayi yang sedang berkembang diserbu oleh stimulasi visual berkecepatan tinggi dapat merusak rentang fokus dan menghambat saraf bicaranya. Tanpa pembaruan ilmu, kakek dan nenek tidak akan menyadari bahwa screen time berlebih ini adalah bom waktu, bukan sekadar hiburan.
2. Warisan Menghakimi Emosi dan Benda Mati
Pernahkah Anda melihat anak kecil terjatuh, lalu orang dewasa di sekitarnya buru-buru memukul lantai atau menyalahkan meja? “Ih, mejanya nakal ya bikin adek jatuh!”Ini adalah warisan masa lalu yang masih sangat melekat. Tujuannya memang untuk segera menghentikan tangisan anak, mendistraksi emosinya agar suasana kembali tenang. Namun, ilmu psikologi modern membuktikan bahwa ini merampas kesempatan anak untuk belajar sebab-akibat. Lebih parah lagi, kita mengajarkan anak untuk lari dari perasaannya sendiri dan mencari kambing hitam atas kesalahannya. Ilmu grandparenting diperlukan agar generasi pendahulu memahami bahwa menangis itu normal. Anak hanya butuh divalidasi emosinya dan dipeluk erat, bukan dialihkan dengan ilusi bahwa benda matilah yang bersalah.
3. Eksplorasi Fisik vs. Kepanikan Lansia
Anak usia belasan bulan sedang sangat butuh bergerak untuk mematangkan motorik kasarnya. Merambat, berlari, terjatuh, dan bangkit lagi adalah menu wajib harian mereka. Namun, bagi kakek atau nenek yang fisiknya tidak lagi seprima dulu, pemandangan ini sering kali memicu kepanikan luar biasa.Insting pertama mereka biasanya adalah membatasi pergerakan cucunya dengan cara menggendongnya ke mana-mana. Memang aman, dan kakek-nenek tidak perlu repot mengejar, tetapi hal ini justru menumpulkan insting eksplorasi anak. Edukasi lintas generasi bisa membuka mata bahwa yang dibutuhkan anak bukanlah pengekangan fisik, melainkan “pagar keamanan”. Kita hanya perlu mengawasi dari dekat, memastikan tidak ada benda berbahaya, dan membiarkan mereka menaklukkan dunianya sendiri.
4. Transisi Peran: Dari “Manajer” Menjadi “Konsultan”
Dulu, saat membesarkan saya atau pasangan saya, orang tua kita adalah Manajer Utama. Mereka adalah pemegang keputusan mutlak. Tantangan terberat saat ini adalah meminta mereka mundur satu langkah dan menerima peran baru sebagai “Konsultan”.Sebuah rumah tidak bisa memiliki dua kapten yang berbeda haluan. Hak prerogatif tentang jam tidur, nutrisi, hingga batasan kedisiplinan sepenuhnya berada di tangan saya dan istri. Tugas kakek-nenek kini adalah mendukung aturan tersebut, bukan menentangnya atau diam-diam melanggarnya di belakang kami.
Sebuah Catatan Penutup
Mengusulkan adanya pemahaman grandparenting bukanlah bentuk kritik bahwa orang tua kita gagal mendidik kita di masa lalu. Sama sekali tidak. Mereka telah memberikan yang terbaik dengan ilmu dan sumber daya yang ada di zaman mereka.
Namun, zaman telah berlari jauh, dan tantangan membesarkan anak di abad ke-21 sudah berubah wujud. Berjuang menjadi pemutus rantai trauma (cycle breaker) sekaligus menegakkan aturan di rumah sendiri rasanya luar biasa menguras mental. Pemahaman tentang grandparenting adalah jembatan yang kita butuhkan saat ini. Agar cinta lintas generasi ini tidak lagi saling menjatuhkan, melainkan berjalan beriringan untuk menciptakan ruang aman terbaik bagi anak-anak kita.
